Kedhung Asem
Dinamakan Kedhung Asem karena ketika itu di dekatnya terdapat pohon asem yang besar dan sudah berumur ratusan tahun. Pohonnya yang sampai berwarna hitam pekat dan dedaunan yang lebat menjadi sarang burung.
Setiap matahari terbenam burung-burung itu bersarang setelah mencari makan dan setiap matahari terbit suara ocehan mereka dapat menghibur yang mendengarkan.
Di kala kota Semarang terkena banjir bandang era 90-an, pohon asem itu ambruk. Walau begitu tempat itu tetap bernama Kedhung Asem.
Karena banjir banding tersebut pihak pemerintah kota melarang warga di sekitarnya yakni daerah Kaligarang untuk mendirikan bangunan di sepanjang Kaligarang. Warga banyak yang mengikuti anjuran pemerintah, rumah dan bangunan yang tadinya di pinggir kaligarang dibongkar dan dipindah ke tempat yang lebih tinggi seperti di daerah Bendan, Kradenan, dan Sukorejo.
Hampir Kalap
Waktu menjelang senja. Sambil membawa dagangannya yang dibungkus taplak Aji berjalan pulang dari
berdagang pakaian dari desa ke desa. Pikirannya bingung, sebab dagangannya tidak laku.
"Apes bener nih aku, seharian keliling dari desa ke desa kok satu aja nggak ada yang terbeli. Nasib.........nasib", begitu pikir Aji.
Hatinya juga miris jika teringat kebutuhan rumah tangga, Mulai dari SPP anaknya, tempat beras yang sudah kosong, belum lagi
hutangnya. Selagi dia bingung dengan pikirannya terdengar suara orang memanggil.
Makan Hati
Malam itu bulan Desember 1950 hawanya panas, mungkin akan turun hujan. Langit gelap dan petir menyambar. Tidak lama hujanpun turun. Semua warga desa sudah masuk ke rumahnya masing-masing. Apalagi orang tua dan anak-anak kecil, tidak ingin tubuhnya terkena hujan.
Di pojok desa masih ada orang asyik pacaran. Pria tampan dan wanita cantik, tidak terasa kalau hujan semakin deras. Keduanya berjalan pelan sambil berangkulan mesra. Kedua orang itu tidak lain adalah Haryono dan Nining. Keduanya lalu bereduh di teras rumah. Empunya yang punya rumah tidak menggubrisnya, barangkali sudah tidur. Haryono sekarang tidak hanya merangkul tapi sudah mulai menciumi pipi dan bibir Nining. Nining tidak menolak, ganti dirangkulnya punggung Haryono. Pria tampan yang sedang kasmaran itu kaget, biasanya Nining tidak mau seperti itu. Malam ini kok lain.
Jago Siluman
Anak mbok Kasipan nama aslinya Joko Mujianto. Namun karena dia senangnya sayur kangkung maka dia terkenal dengan sebuatan Jiyono Kangkung. Anaknya bandel tapi berani. Perawakannya tinggi besar. Hobinya menggantang binatang.
Hari itu Jiyono pulang dari bermain membawa anak ayam warna putih yang masih hidup. Padahal kalau membawa binatang pasti sudah mati. Anak ayam itu kemudian dipelihara dan cepat besar.
Rel
Hawa malam yang dingin sampai menyengat nafas. Gerobag angkut roda 2 isi kunci pas, kunci inggris dan alat lainnya diletakkan kang Dirman. Dia beristirahat sebentar. Rembulan tanggal 15 terlihat mencorong seperti emas di angkasa. Kang Dirman kembali mulai mendorong gerobagnya. Pekerjaanya memang berat, sebagai tukang periksa rel kereta api dia bertanggung jawab terhadap keselamatan kereta-kereta yang lainnya. Sebentar-sebentar kang Dirman berhenti, meneliti mungkin ada mur rel yang kendur yang bias membahayakan kereta yang lewat di atasnya. Saat kondisi Negara yang sedang krisis seperti ini pekerjaanya jadi tambah susah. Tidak sekali atau dua kali ada rel yang dicuri maling.
:: Next >>


